Cinta tak harus berwujud bunga !
Cinta Tak Harus Berwujud Bunga (Toek JulPa)
Saya : Andhika
Dia : Dzulfa
Bahwa kadang kadang perbedaan pandangan dan harapan dapat menyebabkan lunturnya rasa cinta di hati
Dia mencintai sifat saya yang alami dan Dia menyukai perasaan hangat yang muncul di hati saya ketika Dia bersandar di bahu saya.
7tahun dalam masa perkenalan, dan 10 hari dalam masa pacaran, Dia harus akui, bahwa Dia mulai merasa lelah, alasan-2 Dia mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.
Dia seorang wanita yang sentimentil dan benar-2 sensitif serta berperasaan halus. Dia merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah Dia dapatkan.
Pasangan Dia jauh berbeda dari yang Dia harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pacaran kami telah
mementahkan semua harapan Dia akan cinta yang ideal.
Suatu hari, Dia beranikan diri untuk mengatakan keputusan Dia kepadanya, bahwa Dia menginginkan perpisahan
“Mengapa?”, saya bertanya dengan terkejut.
“Dia lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang Dia
inginkan”
saya terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputer saya,
tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.
Kekecewaan Dia semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak
dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa Dia harapkan darinya?
Dan akhirnya saya bertanya,
“Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?”.
Dia menatap mata saya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan,
“Dia punya pertanyaan, jika saya dapat menemukan jawabannya di dalam hati
Dia, Dia akan merubah pikiran Dia
: Seandainya, Dia menyukai
setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua
tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu
akan melakukannya untuk saya?” (kata dia)
Saya termenung dan akhirnya berkata, “Saya akan memberikan
jawabannya besok.” Hati Dia langsung gundah mendengar respon saya.
Keesokan paginya, Saya tidak ada dirumah, dan Dia menemukan
selembar kertas dengan oret-2an tangannya dibawah sebuah gelas
yang berisi susu hangat yang bertuliskan.
“sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu,
tetapi
ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya.
“Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di
PC-saya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya.”
“Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang.”.
“Kamu suka jalan-2 ke luar
kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu”
“Kamu selalu pegal-2 pada waktu teman baikmu’ datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal.”
“Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi orang aneh’. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk
menceritakan hal-hal lucu yang aku alami.”
“Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata kamu agar ketika kita tua nanti, sayaa masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu.”
“Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-2 bunga yang bersinar dan indah seperti
cantiknya wajahmu”.
“Tetapi sayangku, sayaa tidak akan mengambil bunga itu untuk mati.
Karena, Saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi
kematianku.”
“sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu.”
“Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku tidak cukup bagimu, aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu.”
“Dan sekarang, Sayangku, kamu telah selesai membaca jawaban Sayaa. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di hatimu, tolong jangan bunuh perasaan saya dengan pikiran pikiran negative kamu.
“Jika kamu tidak puas, Sayangku, biarkan aku pergi dengan tenang bersama senyum terakhirku, dan saya tidak akan mempersulit hidupmu.Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.”.
Dan nanti saya harap kamu segera berlari membukakan pintu dan melihat saya berdiri di depan pintu dengan berharap kamu kembali untukku.
Oh, ! kini kamu tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai kamu lebih dari saya mencintaimu
Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita
merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.
Karena cinta tidak selalu harus berwujud “bunga”.
